Sii Riya-Diary Part 1
Assalamualikum
teman?
Apa kabarnya?
Sudahkah kalian bahagia? Saya rasa sudah yaa
Yap,
liburan telah usai dan kini aku akan kembali ke aktifitasku sehari-hari,
pengabdianku,dan segala kegiatanku.
Aku adalah
wanita berusia 24 tahun, belum terlalu tua tapi sudah cukup matang hehehe, aku
belum menikah, bukan tidak mau tapi baru berencana. Profesiku adalah seorang
guru SD saat ini, yaa saat ini karena kemungkinan besar aku ada niatan untuk ke
jenjang selanjutnya tapi belum tau kapan, aku baru merintis profesi ini dalam
beberapa bulan, tepat nya satu semsterlah. Aku alumni IAIN Jambi yang sekarang sudah meretas menjadi
UIN Jambi (prook prrokk prook) Alhamdulillah kan, aku lulus di tahun 2016, ya
baru saja rasanya. Jadi selama kuliah dan seusai kuliah aku menjalani kegiatan
kuliah dan mengajar, aku mulai mengajar di semester 2 waktu aku mengajar privat
anak-anak dikantor BPOM Jambi, jadi setiap selesai kuliah biasanya aku kesana. Kemudian
Cuma bertahan beberapa bulan saja, aku berpindah ke Bimbel di tahun 2015. Waktu
itu aku mengajukan lamaran ke beberapa bimbel diantaranya Bright Kids, Bimbel
Harapan, dan Primagama. Alhamdulillah semua berkas dan ujian lulus, tapi paling
awal dan pertama panggilan itu datang dari bimbel harapan dan akhirnya aku pun
menjadi salah satu pengajar disana sampai 2017, kemudian pertengahan 2017 aku
pun pindah ke desa asalku. Dan disinilah cerita dimulai.
Jadi,
aku pindah kesini dengan rasa tak nyaman. Kenapa? Yaa karena pertama, pergaulan
mungkin aku disini jadi tidak akan punya teman. perlu kalian tau, ditempatku
banyak pernikahan dini yang terjadi, sehingganya usia 24 tahun dan belum
menikah dibilang telat nikah. Padahal kan bukan aku yang telat loh, tapi
anak-anak nya yang kecepatan, tapi sudah lah semua orang punya pilihan dalam
hidupnya. Dan saat ini aku belum mau membahas tentang Nikah, dilain waktu kali
yaa. Oke, sampai dimana kita tadi? Tuh kan jadi lupa, gara-gara nikah. Oke sampai
diiiii oh ya alasan pertama tadi yaa. Alasan kedua, masalah signal, nah ini
sebenarnya masalah utamaku sih yaa. Kenapa? Karena bagiku internet itu sumber
informasi terlengkap untukku apa yang ku ingin tau selalu ada jawabannya
kecuali pertanyaan sacral seperti kapan aku mennikah? Jodohku dimana? Aku rasa
tak enak badan untuk hal itu. Selain itu aku juga orang yang tak dapat lepas
dari medsos, alhasil aku gak bisa update medsosku. Terutama blog, entah sejak
kapan rasanya aku lebih suka menulis dalam menuangkan isi hatiku daripada
bercerita kepada orang lain yang belum tentu bisa memberikan solusi pas
dihatiku, sebenarnya diblog juga gak bisa sih, tapi yaa setidaknya plong banget
rasanya kalo sudah menulis panjang lebar masalah dan ceritaku. Nah, itu sih
alasannya. Tapi ada juga sih alasan yang membuatku membulatkan tekad untuk
berpindah kembali kesini, itu karena dia. Eitsss….jangan dibahas panjang lebar
disini!
Oke itulah
tadi alasanku, beberapa bulan disini hidupku bak seorang ibu rumah tangga tanpa
suami dan anak. Pagi aku mencuci, membersihkan rumah,masak,kemudian aku tidur,
sudah itu saja kegiatanku. Berhari-hari dan berbulan-bulan aku rutin melakukan
hal ini. Hingga akhirnya aku dapat tempat untuk menyalurkan bakatku, yaaa
mungkin ini bakat , bakat yang terasah. Sedari kecil ketika ditanya tentang
cita-cita aku selalu menjawab ingin jadi guru. Karena menurutku guru itu
istimewa. Yap kembali ke cerita tadi, aku ditawarkan untuk mengajar disebuah TK
didaerahku, dan akhirnya tanpa pikir panjang akupun menerima, karena bagiku
mengajar bukan masalah gajinya berapa. Tapi seberapa besar pengabdianmu untuk Negara,
aaaaa, aku lupa aku juga tercatat sebagai anggota relawan yang bergerak
dibidang pendidikan loh, nama komunitas itu SIJ ( Sahabat Ilmu Jambi) dan aku
mengambil devisi taman baca,oke singkat saja yaa.
Satu
tahun kujalani sepertinya tak ada
perkembangan yang kudapatkan disana, belum lagi sistemnya aku juga kurang
paham. Akhirnya aku memustuskan untuk
resign, dan aku fokus untuk membangun sebuah bimbel. Karena aku sadar, mengapa hatiku memanggilku
untuk kembali, apakah mereka butuh sosok
ku?
Aku selalu
berharap bahwa kehadiranku akan selalu membawa manfaat dan kebahagiaan bagi
mereka tapi entah lah mereka yang merasakan. Melihat kondisi yang ada,
timbullah rasa ingin memberikan hal lebih terhadap anak-anak dsini. Alhasil aku
membangun sebuah bimbel yang ku namai Gudang Ilmu Betara. Harapannya mudah-mudahan
bimbel ini sesuai dengan namanya menjadi gudang ilmu bagi anak-anak disekitarku
dan juga orang tua. Aku ingin mengajak mereka membuka mata, bahwa pendidikan
itu tidaklah harus sampai disini, SMP atau SMA. Kalian harus lihat dunia diluar
sana, banyak hal luar biasa yang belum kalian lihat, dan harusnya kalian tidak
berhenti sampai disini. Masalah biaya, sebenarnya bukan kendala jika memang
berniatan untuk melangkah maju. Akupun ketika kuliah , aku harus bekerja juga
dismaping itu. Aku kuliah dari pagi sampai siang, sore nya aku ambil kelas
bimbel sampai menjelang magrib, aku pulang ke kosan harus mengurus dapur dan
pakaian kotor. Malamnya ku harus mengurus tugas kampus, begitulah seterusnya
kehidupanku. Tak main-main jarak yang ku tempuh setiap hari, mendalo-pasir
putih (bagi yang tau). Kok malah curhat yaa kemana-mana.
Oke,
dari atas dasar itulah aku akhirnya mendirikan bimbel rumahan, kegiatan belajar
geraknya masih terbatas karena masih dilaksanakan didalam rumah. Alhamdulillah sekarang
sudah 2019, dan kegiatan belajar nantinya akan aku alihkan ke gedung baru milik
GIB, aku sangat bersyukur dan
berterimaksih juga atas dukungan dan bantuan dari kedua orangtuaku
hingga aku dapat melihat dan mempunyai gedung bimbel sendiri.
Dan saat
ini pun aku mengajar disalah satu SD, kebetulan SD ini adalah SD tempatku
menimba ilmu, dan sekarang waktunya untuk menambah ilmu dan berbagi ilmu, apa
yang kudapat sekarang belum puas rasanya. Karena ku rasa masih banyak yang
harus ku lakukan dan masih banyak yang perlu ku pelajari.
Dan baru-baru
ini aku tau, ternyata masih saja ada beberapa orang yang mengalami buta
huruf,masih saja banyak anak-anak yang akhlaknya tak terarah, masih saja banyak
anak-anak yang tak berminat belajar, masih banyak anak-anak yang tak berniat
belajar, masih banyak orang tua tak mengerti perannya dan peran guru. Jika dipikir
satu per satu sebenarnya cukup lelah tapi aku tau pasti ada cara mengatasi
segalanya.
Sii riya- diary part 2
Intinya aku merasa mengapa hanya guru yang disalahkan dalam
berbagai hal di dunia pendidikan? Tidak kah kalian tahu bahwa orang tua pun
punya peran penting dalam perkembangan pendidikan anak. Entah dari mana hal ini
muncul ada sebuah keinginan untuk memiliki sebuah sekolah yang berbasis ke
agama. Mungkin seperti Tk Islam Terpadu, SD Islam Terpadu. Sehingga nya anak
bisa memperoleh ilmu tidak hanya ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Harapan
ini bukanlah harus terwujud sekarang juga karena aku sadar akan banyak
pengorbanan nantinya didepan sana, akan tertatih perjuangan demi perjuangan
didepan sana. Entah lah apa aku mampu menjalani sehelai bambu di atas sana.
Comments
Post a Comment